Guangzhou Evergrande Menjadi Juara Chinese Super League

Hasil imbang 1 – 1 saat Guangzhou Evergrande bertanding melawan Yanbian Fude telah cukup untuk memberi gelar juara Chinese Super League bagi klub asuhan Luiz Felipe Scolari tersebut. Gelar tersebut juga menjadi gelar keenam secara beruntun yang dimenangkan Guangzhou Evergrande. Sedangkan bagi Scolari; gelar tersebut merupakan yang kedua sejak ia datang ke klub tersebut kurang dari 17 bulan lalu. Gelar tersebut telah diramalkan sejak paruh kedua musim ini berkat konsistensi Guangzhou Evergrande dan keberhasilan mereka bertahan di puncak klasemen tanpa banyak mengalami tekanan. Satu – satunya tekanan bagi Guangzhou Evergrande musim ini hanya datang dari Jiangsu Suning yang tampil tidak begitu kompetitif di paruh kedua musim.

Guangzhou Evergrande Menjadi Juara Chinese Super League

Keberhasilan memenangkan gelar juara Chinese Super League musim ini menunjukkan keberhasilan Scolari mengatasi keadaan setelah cedera yang dialami Jackson Martinez. Cedera yang dialami pemain termahal Guangzhou Evergrande tersebut sempat membuat performa tim menurun pada bulan April setelah penyerang Kolombia tersebut mencetak 3 gol di 5 pertandingan liga. Namun setelah Martines pulih di bulan Agustus; tim tidak lagi bergantung pada penyerang tersebut. Martinez hanya mencetak 1 gol dari 4 penampilan; sedangkan Alan, Ricardo Goulart serta Gao Lin telah berubah menjadi tulang punggung dan mesin gol Guangzhou Evergrande. Bahkan permainan tim terlihat lebih seimbang ketika Jackson Martinez tidak dimainkan oleh Scolari.

Keuntungan Guangzhou Evergrande untuk fokus pada pertandingan liga juga merupakan berkah dari tersingkirnya mereka dari Liga Champions Asia. Shanghai SIPG yang bertahan hingga perempat final harus membagi energi dan konsentrasi di 2 kompetisi penting. Perjalanan jauh hingga Asia Timur dan Australia serta pertandingan di pertengahan pekan memang cukup melelahkan bagi tim manapun. Kondisi tersebut membuat Shanghai SIPG menjadi kurang kompetitif pada pertandingan liga karena sebagian besar energi mereka terserap untuk menjalani perjalanan dan pertandingan di Liga Champions Asia. Hal lain yang membuat Guangzhou Evergrande tidak mendapat tekanan dari klub lain adalah kemunduran yang dialami oleh Hebei China Fortune. Kedatangan Manuel Pellegrini untuk meningkatkan performa klub tersebut tidak berjalan cepat. Bahkan Pellegrini baru mampu mempersembahkan kemenangan pertama saat gelar juara telah resmi dimenangkan Guangzhou Evergrande. Performa buruk Stephane Mbia dan Gervinho serta kepergian Ezequiel Lavezzi ke turnamen Copa America dan mengakhiri musim dengan cedera membuat Lie Tie dipecat dari kuris manajer dan digantikan Pellegrini.

Keberhasilan lolos dari tekanan setelah menang 3 – 0 pada laga tandang melawan Hebei dan hasil imbang melawan Shanghai SIPG menjaga Guangzhou Evergrande bertahan di puncak klasemen. Kekalahan Jiangsu Suning di laga melawan Hangzhou saat Evergrande bermain imbang melawan Shanghai SIPG menjadi momen dimana tekanan dari Suning menurun. Kesempatan untuk memperpendek selisih nilai gagal dimanfaatkan Ramirez dan kawan – kawan karena secara mengejutkan justru kalah telak dengan skor akhir 0 – 3.